Maratua, Kakaban & Sangalaki

Halo Darlings,

Seperti yang sudah pernah gw tulis sebelumnya, hampir setiap liburan Ubibo lah yang mengarrange semua. Jadi kalau di tanya gw bakal liburan kemana dan stay dimana, pasti gw akan jawab “hahaha ga tau, kata Ubibo biar surprise nanti.” Begitu pun trip kami selanjutnya setelah dari Makassar.

Dengan waktu tempuh satu jam, sampailah kami di Balikpapan dan menginap di rumah sepupu gw dan besoknya langsung berangkat menuju Berau. Pesawat dari Balikpapan ke Berau ini bisa menggunakan Garuda Indonesia, Wings Air, KalStar dan Sriwijaya. Kemarin kami menggunakan Garuda Indonesia dengan redeem miles jadinya gretong ahaay! Terima kasih GFF 😉

FHD0372.JPG
Garuda Indonesia – Bombardier CRJ1000

Kalau menggunakan pesawat, cukup 30 menit kita sudah sampai di Berau. Sedangkan kalau pakai jalan darat waktu tempuhnya 13 jam. Selain dari Balikpapan, ada juga direct flight dari Jakarta – Berau menggunakan Lion Air. Tinggal pilih saja sesuai kebutuhan ya Darls.

Dalam 10 menit sebelum landing, terlihat hamparan hutan Kalimantan dan semakin mendekati landasan banyak terdapat lokasi tambang batu bara. Ada yang masih aktif dan ada yang sudah menjadi danau. Kasihan lihatnya bolong-bolong gitu.

Lalu pemandangan pun berubah drastis pada saat landing. Asliiii…gw kaget sama bandara di Berau. Lebih bagus daripada Soetta hihihi. Nama bandaranya Kalimarau. Sayangnya gw ga sempat foto-foto karena harus buru-buru cari transport ke tujuan selanjutnya. Nah gw ambil fotonya dari sini ya biar agak kebayang.

berau
Kalimarau, Tanjung Redeb, Berau

Sesampainya di Berau, gw pun bertanya kalau kami mau kemana dan apakah sudah arrange transport. Jreeeng jreeeng ternyata kami akan ke Maratua dan belum pesan transport… Aaaa antara senang dan khawatir karena belum punya plan naik apa dan bagaimana. Kali ini Ubibo memang sengaja belum arrange transport karena dia pengen go show aja siapa tau dapat harga murah.

Kenapa?

Karena ternyata setelah dia browsing, rata-rata harga yang ditawarkan oleh travel agent SANGAT MAHAL, bisa sampai Rp. 11 juta (excl. hotel dan makan) untuk dua orang dan banyak traveler yang menyarankan untuk go show saja. Haluuu.. Rp. 11 juta mending gw pergi umroh hahahah.

Ternyata benar! Pas sampai di konter taxi bandara, Si Mba menyarankan kalau mau murah, kami naik taxi bandara dan turun di Jalan Ahmad Yani dan di sana biasanya ada mobil yang bisa mengantar kami ke Pelabuhan Tanjung Batu. Kalau menggunakan taxi bandara langsung ke Tanjung Batu ongkosnya Rp. 650,000. Sedangkan kalau kami mengambil opsi ke Jalan Ahmad Yani, ongkosnya hanya Rp. 80,000 (taxi bandara) dan Rp. 100,000/orang (sharing mobil ke Tanjung Batu). Lumayan banget kan bedanya? 😀

Walaupun kami belum arrange transport, liburan ke Maratua ini seperti dibukakan jalan untuk bertemu dengan orang yang sangat helpful. Dimulai dari kami bertemu dengan Pak Hendy yang mobilnya sudah standby di Jalan Ahmad Yani. Beliau sangat ramah dan memberikan kontak speed boat untuk jalan-jalan. Pak Hendy ini juga prihatin dengan “oknum-oknum” travel agent yang dengan sengaja mengambil untung yang tidak masuk akal dan bilang “Nanti kasih tau sama teman-teman di Jakarta ya. Jangan takut kalau mau ke sini. Harus berani go show pasti nanti lebih murah dan ketemu dengan orang-orang yang mau bantu.”

Selama perjalanan, pemandangan di kanan dan kiri jalan kebanyakan adalah perkebunan kelapa sawit yang habis terbakar tahun lalu. Kata Pak Hendy, pemilik lahan perkebunan memang sengaja membakar lahan mereka dengan harapan bisa ditanami kembali. Tapi yang terjadi justru merugikan orang banyak dan sampai rumah pemilik lahan tersebut ikutan terbakar. Tuh kan.. Senjata makan tuan.

Waktu menunjukkan saatnya makan siang dan di tengah perjalanan kami mampir di rumah makan. Menunya sederhana tapi menurut gw ada yang spesial banget. Buras dan serundeng. Oh my God…rasanya pecah banget kalau kata anak jaman sekarang 😀 Sambil makan, gw iseng nanya ke Pak Hendy kapan awal mula Derawan dikenal sama turis. Ternyata semenjak diadakannya PON di tahun 2008 lah mulai banyak turis yang datang. Infrastruktur pun diperbaiki, termasuk Pelabuhan Tanjung Batu yang awalnya hanya dermaga dengan alas kayu seadanya. Pelabuhan Tanjung Batu pernah menjadi pusat kegiatan PON cabang olah raga layar dan sampai sekarang masih ada base camp nya untuk latihan olah raga tersebut.

Setelah dua jam perjalanan darat, sampailah kami di Pelabuhan Tanjung Batu. Di sana kami sudah ditunggu oleh teman Pak Hendy dan langsung melakukan negosiasi harga speed boat untuk menyebrang ke Pulau Maratua. Kalau kalian belum punya kenalan, jangan khawatir karena ada beberapa orang yang standby untuk menawarkan jasa penyebrangan. Nah kalau gw bisa simpulkan, ongkos transport selama trip ini akan lebih murah kalau…

“Kita pinter nawar dan pergi dengan anggota yang cukup banyak” 😉

MARATUA

Okay.. Speed boat sudah dinyalakan dan mari kita menyebrang ke Pulau Maratua. Untuk boat yang kami gunakan ini kapasitas bisa muat empat orang atau kalian bisa sewa boat yang lebih besar lagi yang kapasitasnya muat 10 sampai 20 orang.

FHD0373.JPG

Di sepanjang perjalanan membelah laut ini, Ubibo selalu bilang kalau gw jangan kaget ya bakalan tinggal dimana dan kita akan turun persis di depan tempat kami tinggal nanti. Aaaaak penasaran banget gw!

Dan setelah 30 menit perjalanan udara

2 jam perjalanan darat

1,5 jam perjalan laut

Alhamdulillah sampai juga kami di Maratua Paradise Resort (MPR) yeaaay. Ubibo bilang ini adalah salah satu dari sembilan Water Villa yang ada di Indonesia. Wow super excited!  Fishes and Sea Turtles are right under our feet 😉

maratua.jpg
Maratua Paradise Resort

MPR ini ternyata kepunyaan orang Malaysia lho tetapi dikelola oleh orang lokal. Untuk paket permalamnya sudah termasuk breakfast, lunch, dinner, dan tea time (24 jam). Sehabis taruh koper, Ubibo ga sabar buat nyemplung.. gw puuun!! Ikan-ikannya seru banget. Tapi dasar sotoy… Selama snorkeling, gw kena sengat ubur-ubur lebih dari tiga kali. Ga sukaaa hahaha ;’) Ternyata dibalik keindahan bawah lautnya, ada geng ubur-ubur kecil yang suka sengat-sengat huh!

maratua 2

Malam harinya kami menikmati makan malam yang sudah disediakan secara prasmanan di restoran tengah. Pada waktu itu ternyata hanya ada empat tamu (termasuk kami) dan dua lainnya dari Jepang. Surprisingly, makanan selama di MPR rasanya enak dan jenisnya masakan rumahan. Lengkap dari nasi sampai salad buah. Nom nom nom..

Setelah selesai makan malam, kami bertemu dengan temannya Pak Handy yaitu Pak Khalek sang boat driver. Ubibo dan Pak Khalek diskusi soal tujuan wisata selama di Maratua dan pulau sekitarnya. Cekidot rute perjalanan kami kemarin, Darls.

Hari ke-1: 

A. Haji Mangku

Haji Mangku adalah goa yang berbentuk jurang dan di dalamnya terdapat semacam danau dengan air berwana biru dan rasanya asin. Posisi Haji Mangku ini masih berada di Pulau Maratua. Pas dateng dan lihat ke bawah…antara excited pengen terjun dan kaki lemes. Kedalaman danau ini sekitar 25 meter. Jadi hati-hati dengan barang bawaan, kalau jatuh ya diikhlaskan atau harus diving untuk ngambilnya.

Lebih serunya lagi, pas kami dateng ternyata belum ada orang. jadi puas deh berenang ke sana kemari. Walaupun sudah beberapa kali lompat, tetap saja bawaannya deg-degan kalau mau lompat lagi hihihi. Puas berenang satu jam di sana, kami melanjutkan perjalanan berikutnya dan rombongan lain pun datang.

haji mangku

haji mangku 2
Haji Mangku

B. Kakaban Lagoon

Untuk menuju Lagoon ini, kita harus menempuh waktu kurang lebih 30 menit dari Haji Mangku ke Pulau Kakaban. Menurut cerita, Lagoon ini ditemukan oleh para turis dan dulunya hanya turis asing yang diperbolehkan masuk karena ada kontraknya. Setelah masa kontrak tersebut habis, barulah turis lokal diizinkan untuk masuk.

Air yang ada di Lagoon rasanya asin dan Lagoon ini mempunyai pemandangan yang bagus banget. Cocok buat foto bareng teman-teman….even Prewed foto!

Lagoon.jpg
Kakaban Lagoon

C. Jellyfish Lake, Kakaban

Sebenernya gw masih trauma sih karena kejadian disengat sama geng ubur-ubur di MPR kemarin. Tapi gw diyakinkan sama Ubibo kalau ubur-ubur di Kakaban ini ga menyengat karena anatomi tubuh mereka sudah berubah. Tetap saja gw masih parnooo. Yang ada pas gw mulai snorkeling, ntah kenapa tarikan nafas gw sangat berat dan disenggol dikit sama ubur-ubur bawaannya teriak. Norak! Haahaha tapi itu cuma berlangsung 15 menit. Setelah itu, gw mulai (sok) akrab dengan mereka. Gw coba buat menyetuh sedikit bagian ubur-ubur itu dan rasanya unik. Gw ga berani pegang keseluruhan sih,  karena kata Ubibo tubuh mereka rentan.

Untuk snorkeling di sini ga bisa menggunakan fin ya karena di dalam airnya banyak terdapat pasir dan ubur-uburnya takut kesepak. Kebayang pas kemarin jaman liburan anak sekolah, kata Pak Khalek dan Pak Hendy kalau semua orang pada nyemplung dan air menjadi keruh yang mengakibatkan ubur-uburnya “takut” dan bersembunyi ehehe.

jellyfish.jpg
Jellyfish Lake, Kakaban

Oia ada kejadian “unik” di sini. Ternyata pas mau buka ransel, goggles & snorkel Ubibo ga ada! Waduh sepertinya ketinggalan di Haji Mangku. Males banget kan kalau balik lagi. Muka doi langsung bete berat dan untungnya Pak Khalek punya spare kalau-kalau dibutuhkan. Tapi tetep aja gw jadi ikut kepikiran.

Kata Ubibo, kemungkinan snorkel set itu ketinggalan karena ketutupan baju turis lain selain kami di Haji Mangku. Untungnya Pak Khalek dengan sigap langsung kontak temannya yang ada di MPR karena siapa tau rombongan turis itu berkunjung ke MPR. Ternyata benar mereka sempat main ke MPR tapi sudah keburu pergi dan menuju ke Kakaban. Okay.. Ada kemungkinan kami akan ketemu kembali di Jellyfish Lake. NOT! Sudah 30 menit menunggu, mereka ga hadir-hadir juga. Lalu kami putuskan untuk pergi saja dan berusaha mengikhlaskan.

Setelah itu kami diarahkan ke snorkeling spot dekat dengan Jellyfish Lake dan sepertinya ada kapal dengan driver yang pernah kami lihat di Haji Mangku dan mata gw langsung scanning satu per satu turis yang lagi asik snorkeling.

“Itu…!! Itu goggles kamu Bibo!!”

“Ah bukan, mirip aja.”

“ENGGA, ITU PUNYA KAMOOOO..!! MAAASSS HALOOO MAAASSS… Maaf itu goggles yang ketinggalan di Haji Mangku bukan? Merknya ini bukan? Kayaknya itu punya suami saya. Karena punya kami kembaran cuma beda warna.”

“Oh iya mungkin ya mba.. Ini Mba..”

Lesson learned: Never give up on hope! Hahaha walaupun agak ngotot dikit ya pemirsah. Dan muka Ubibo cerah kembali….senyum dong lau! 😀

Snorkeling pun dilanjutkan di Sea Wall Kakaban. Wooow sensasi snorkeling di sini dahsyat karena memang sangat terjal perbedaan ketinggiannya plus arus bawah lautnya cukup kuat. Pak Khalek pun sudah kasih kode untuk kembali ke boat. Beliau cerita kalau kita ga boleh sampai ke ujung pulau karena di situ arus bawah lautnya luar biasa. Nah untuk para divers, spot tersebut cocok banget buat dijelajah. Kalau beruntung, para divers bisa bertemu dengan Barracuda Schooling. Namun, untuk bisa diving di sini, dive master MPR hanya mengizinkan bagi para divers yang sudah punya pengalaman minimal 60 kali diving dikarenakan medan yang sangat ekstrim.

sea wall.jpg
Sea Wall, Kakaban

Hari Ke-2, Pulau Sangalaki

Khusus di hari ke-2 ini, kami memutuskan untuk seharian di sekitaran Pulau Sangalaki. Nah enaknya stay di MPR, mereka tetap bisa menyediakan lunch box kalau kita ga lunch di resort. Dan tetep, masakannya enak dan lengkap 🙂

Namun cuaca kurang mendukung nih. Dari awal pergi sampai kita di spotnya Manta Ray, ombaknya cenderung tinggi. Jadinya kami hanya melihat Manta Ray dari atas boat saja. Kata Pak Khalek, bulan terbaik untuk mengunjungi Maratua dkk adalah di bulan April dan Mei karena lautnya tenang. Kalau pas lautnya tenang, bisa banget kita snorkeling bareng sama Manta Ray.

Karena ombak lagi ga oke, kami melipir ke Pulau Sangalaki dan di sana ada tempat konservasi anak penyu atau Tukik. Tukik ini akan dilepas pada malam hari oleh para petugas setempat. Kebayang kalau Kimo ikut ke sini pasti dia seneng banget main bareng Tukik hihihi.

tukik.jpg
Konservasi Tukik, Pulau Sangalaki

Setelah melihat Tukik, kami diarahkan untuk snorkeling di sekitaran Pulau Sangalaki. Spotnya mirip seperti mini palung dan kebetulan air lagi surut, jadi snorkelingnya aman deh. Abis itu lanjut makan siang sambil nunggu air pasang karena Pak Khalek kepengen kita lihat Manta Ray lagi yang muncul kalau pas air lagi pasang. Tapi ga berjodoh berenang bareng Manta nih, karena ombak masih tinggi hiks. Padahal banyak banget Manta berenang ke sana kemari. Next time yes!

Hari Ke-3, Maratua Paradise Resort

Iyes, karena kemarin sudah kecapean snorkeling kurang lebih 4 jam, kami memutuskan untuk istirahat dan menikmati MPR. Tidur, baca, makan, tidur, makan…hihihi akhirnya beres juga satu buku yang memang khusus gw bawa buat nambah ilmu tentang Parenthing. Tetep yeee 😀

Here’s sneak peek of our room

FHD0565 - Copy.JPG

FHD0598 - Copy.JPG

FHD0593.JPG
Parenthink by Mona Ratuliu

Hari sudah mulai sore, enaknya ngapain ya? Jalan-jalan sekitar kampung yuk..!

Lalu kami berjalan kaki menuju perkampungan instead of nyewa sepeda motor. Hitung-hitung olahraga kan ya eehhehe. Sesampainya di perkampungan, kami bertemu dengan sekelompok anak yang sedang berenang di laut dan mereka sangat friendly. Menurut info dari Pak Khalek, mereka memang diajarkan oleh orang tua untuk ramah dengan para pendatang. Tujuannya biar para pendatang merasa nyaman.

“Halo Om… Om dari mana?”

“Halo, Om dari Jakarta.. Kalian kelas berapa?”

“Aku kelas 2, Om..”

Dan sampailah pada saat akhir berenang bareng mereka.

“Dadaaah Ooom… Dadah Kakak…!!”

HAHAHAHA KAKAAAK, terharu banget gw 😉

img_1570

FHD0608.JPG

Ubibo and His New Friends

Setelah menikmati last sunset di Maratua, kami kembali ke MPR dengan menyisiri pantai. Too bad, selama perjalan kami sering menemukan broken glasses. Ntah itu dari botol atau piring. Bahaya banget kan geng kalau keinjek! Trus Ubibo langsung komen “Kamu tau ga kalau ada cerita ada seseorang yang masuk surga hanya karena menyingkirkan pecahan gelas? Pungut yuuuk trus taruh di tempat aman.” “Ayooook…” *mendadak Mamah Dedeh 😉

Sampai di MPR, malamnya kami bertemu dengan Pak Khalek. Di pembicaraan sebelumnya, rencana awal kami check out dari hotel adalah jam 9 pagi. Tapi sepertinya Pak Khalek kepengen memberikan ending yang gong banget untuk liburan kali ini.

“Besok baiknya kita check out jam 6 pagi aja ya”

“Kenapa Pak?”

“Biar kita bisa lihat Whale Shark.. Oke?”

“HHHOOOOAAA… MAU BANGET..!”

 

Hari Ke-4, Sekitar Pulau Derawan & Kembali ke Balikpapan

Tepat jam 6 pagi kami yang sudah berpakaian rapih dijemput oleh saudara Pak Khalek. Kenapa pakaian rapih? Karena rencananya kami hanya melihat dari atas saja kalau ketemu Whale Shark. Takut digigit hahaha. Jadi Whale Shark ini ceritanya juga baru dalam lima hari kemarin ada di sekitaran kapal ikan yang letaknya ga begitu jauh dari Pulau Derawan. Siapa tau kami beruntung ketemuu ya kaaan.. Kalau ga ketemu, setidaknya kami sudah mandi dan siap pulang ke Balikpapan.

Karena ombak yang (masih) tinggi, kami baru sampai di sekitaran kapal ikan satu jam kemudian dan ternyata Whale Sharknya ga ada. Lalu Bapak itu memutar boatnya ke kapal ikan yang lain dan langsung bilang..

“ITU DIA..!!”

Woooww asli GEDE BANGET. Dan tanpa ba bi bu, rencana pakaian rapih pun hilang dan kami langsung ganti baju di atas boat pas Bapaknya pergi naik ke kapal induk. Siip…Baju dan snorkeling set sudah siap… Tapi..

“Duh kalau gw dimakan gimana? Kalau ini? Kalau itu?”

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA JUUUMMPPP…!!! BYUUURRR…

Akhirnya rasa takut itu hilang pas lihat Whale Shark langsung di bawah laut dan gw memberanikan diri untuk pegang badan ikan itu. Tekstur kulitnya sepeti plastik dan banyak ikan-ikan kecil yang ikut berenang di pinggirnya. Gw pun berenang ke sana kemari….trus ga digigit. Yaiya.. Whale Shark ini ternyata pemakan plankton dan ikan asin. Pantesan para nelayan di atas kapal nawarin pakan ikan asin seharga Rp. 50,000 buat feeding Whale Shark biar doi tetap di sekitaran kami.

Oia, waktu lalu Pak Khalek juga pernah cerita kalau kemarin ada turis yang lagi berenang dan posisi kakinya tiba-tiba sudah berada di depan mulut Whale Shark. Panik dan berusaha berenang tetapi orang itu seperti kesedot. Nah…karena memang bukan makanannya jadi si ikan seperti menyemburkan kembali si orang itu dan ga jadi dimakan. Glek! Ehehee cerita ini antara lucu dan miris. Kebayang kalau gw  jadi orangnya 😉

FHD0624.JPG

FHD0708.JPG

FHD0735.JPG

FHD0710.JPG

FHD0692.JPG

FHD0674.JPG

FHD0683.JPG

Dearest Maratua, Kakaban, Sangalaki dan Derawan,

Kalian indah sekali dan kami bisa punya kesempatan berenang bareng Whale Shark merupakan penutup liburan yang manis.

Allah Maha Baik, Terima kasih ❤️❤️❤️

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s